Parut Biru


Siapa Menginap Berdua?
September 6, 2008, 6:37 am
Filed under: Tentang Training | Tag: ,

Perkenalan selesai. Aku dan beberapa teman kemudian membereskan administrasi ke Mbak Rini. Begitu selesai, aku bergegas menuju ke wisma untuk istirahat. Lumayan, sudah bisa berbincang dengan teman-teman baru. Sejenak masih berbagi cerita. Saat itulah, ada satu kamar yang mustinya dihuni oleh dua peserta putri yang kulihat ganjil.

Siapa sih? Mestinya kamar itu dihuni oleh Sus Sisca dan Kania. Kok Sus Sisca tidak menginap? Oh, ternyata dia memilih nglaju dari rumahnya yang dekat. Tapi, Kania menginap dengan siapa? Berdua juga! Waa……laki-laki lagi! Apa kakaknya? Kali aja begitu! Ah, berpikiran positif ajalah. Buat apa mikir yang tidak-tidak!

Esok pagi, aku pulang dari jalan-jalan. Kamar Kania sudah terbuka. Kusapa sejenak dan kulihat ”kakaknya” masih ada di situ. Setelah mandi, aku dan Mo Awan, Pak Sugeng, serta Mo Mento menuju ke ruang makan. Tak berapa lama, Kania menyusul. Eh, cerita apa pagi ini?

Barulah saat kumpul-kumpul itu, ketahuan siapa lelaki yang menginap bersama Kania. Ternyata….suaminya! Hi…hi..hi…! Yang bingung bukan aku sendiri. Pak Sugeng, Mo Mento, dan Mo Awan juga bingung. Mereka kemudian cerita kalau malam itu, mereka juga bertanya-tanya tentang lelaki yang bersama Kania. Untungnya, mereka kemudian bertanya, jadi lebih dulu tahu. Lha aku? Mengertinya baru paginya. Walah…, untung aku berpikir bahwa lelaki itu saudaranya.

Memberi perhatian itu penting, namun kalau terlalu berpikir negatif juga tidak menguntungkan. Jika bertemu dengan kawan baru, berpikir positif akan membantu untuk mengenali pribadinya. Sayangnya, aku bisa saja memiliki sikap tidak peduli pada orang lain, sehingga tidak terlalu penting memberi perhatian. Atau sebaliknya, terlalu peduli, sehingga malah berpikir yang kurang positif. (*)



Woow….,Training TV/Video!
September 6, 2008, 6:34 am
Filed under: Tentang Training | Tag: ,

Suatu hari, pimpinanku menyodorkan sebuah pamflet kepadaku. Setelah kulihat, ternyata isinya adalah informasi mengenai training TV/Video di SAV Puskat Yogyakarta. Pendek kata, pimpinanku memintaku untuk mengikuti salah satu program yang ditawarkan. Setelah mempelajari pamflet itu, aku kemudian memilih program yang hendak kuikuti. Begitulah, awalnya.

Mendekati masa-masa training, tak banyak hal yang kusiapkan. Yang muncul dalam benakku adalah aku ingin merasakan dan melihat bagaimana cara kerja kru televisi itu. Syukur, pengalaman itu nanti bermanfaat dalam tugasku sebagai tenaga kearsipan dan publikasi.

Aku berangkat ke Puskat hari Senin, 7 Juli 2008 sangat pagi. Kupikir, karena aku belum tahu jadwal acara, lebih baik berangkat awal. Selama perjalanan, aku tak begitu memacu sepeda motor dengan kencang. Di samping masih terlalu pagi, aku juga baru kali itu membawa sepeda motor bebek ke luar kota. Wah…memang bukan petualang sih. Tidak suka naik sepeda motor!

Sampai di Yogya, sekitar pukul 07.30. Benar-benar belum siang. Ketika memasuki lingkup tempat training, aku diterima oleh penjaga dan segera ditunjukkan kamar penginapanku nanti. Ketika berjalan, aku berpapasan dengan Mo Murti. Dia beri tahu kalau acara baru akan dimulai malam nanti setelah makan malam. Oo…ala….! Tapi ya tidak masalah. Sudah terlanjur datang.

Aku sampai di wiswa Paranggarudi, tempat menginapku. Di sana aku bertemu dengan seseorang. Oh, ternyata salah satu peserta juga. Dia mengenalkan diri sebagai Mo Mento. Jadilah, aku dapat kenalan satu teman baru. Setelah berbincang sejenak, aku pamit kepadanya. Aku mau keliling kota. Sebenarnya sih, waktu itu aku memiliki rencana cepat untuk menengok rumah dulu di Sawangan, Magelang. Begitu selesai pamit, aku segera pergi ke rumah dan kuhabiskan sehari penuh itu di rumah. Sore hari, aku baru kembali ke Puskat.

Sampai di Puskat, hari sudah malam. Masih ada keramaian yang kulihat. Baru kemudian aku mengetahui kalau keramaian itu adalah peringatan 40 hari meninggalnya Rm. Ruedi, mantan pimpinan Puskat ini. Saat aku berjalan hendak menuju ke ruang pertemuan, aku sempat berpapasan juga dengan beberapa teman baru. Mereka kalau tidak salah adalah Eko, Dista, Akbar, dan Fikri. Selanjutnya, aku berjumpa dengan Pak Sugeng, seorang pendeta, dan Mo Awan. Kami semua kemudian bersama-sama menuju tempat pertemuan.

Pertemuan dimulai sekitar pukul 20.30 di Ruang Mawar. Aku bergabung dengan teman-teman baru. Di tempat itulah, Mas Tri Mul mengenalkan beberapa tutor lain. Setelah itu, kami diantar untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Begitu Mas Tri Giovani menyampaikan ucapan selamat datang mewakili Mo Is, acara training pun dimulai.

Kupikir, mengosongkan diri agar bisa menerima sesuatu yang baru adalah cara baik. Aku perlu berendah hati dengan tidak harus memasang kuda-kuda. Meski aku memiliki pengalaman lain, agar pengalaman baru dapat terserap, sikap membuka diri itu perlu. (*)



Mengapa Parut Biru?
Agustus 16, 2008, 8:34 am
Filed under: Selamat Bergabung | Tag: ,

Hitam-ManisMungkin ada pembaca yang bertanya, “Mengapa blog ini diberi nama PARUT BIRU?” Bisa saja, tentang judul sebuah blog itu urusan pemilik. Pembaca tak perlu tahu bagaimana dan mengapa judul itu bisa ditemukan. Akan tetapi, aku pemikiranku tidak seperti itu. Jika memang ada yang bertanya (meski dalam hati sekalipun), melalui pembukaan ini, aku ingin menyampaikan alasan-alasan pembuatan Parut Biru.

Nama ini, kuambil dari pengalaman Training Program TV/Video SAV PUSKAT Yogyakarta. Dalam akhir tugas training, peserta mendapat tugas untuk membuat film dokumenter. Aku dan kelompokku mendapat tugas untuk membuat film dokumenter mengenai kerajinan tradisional. Setelah melakukan survei selama dua hari, kelompokku memutuskan untuk mengangkat satu bentuk kerajinan tradisional di Dusun Pojok, Desa Sendangagung, Kec. Minggir, Kab. Sleman, DI Yogyakarta. Bentuk kerajinan yang masih bertahan di Dusun Pojok itu adalah pembuatan parut kelapa tradisional dari bahan baku pohon melinjo.

Jadi, parut itulah yang menjadi fokus pembuatan film dokumenter ini. Kok ada kata “biru”? Ha…ha…ha…! Memangnya, pohon melinjo berwarna biru? Bukan itu alasannya! Alasannya karena ada pembuat parut yang memakai kaos biru waktu kami melakukan shooting. Hitam, tapi manis!




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.