Parut Biru


Tiga Show (3)
Februari 7, 2009, 2:52 pm
Filed under: Tentang Training | Tag: ,

Bagaimana tentang Talk Show pimpinan Lik Agus yang mendapat jatah waktu perekaman pertama? Oleh karena mulai perekaman molor, tentu saja untuk acara perekaman dance show dan musical show pun turut molor. Talk Show pada umumnya merupakan pertemuan antara interviewer (pewawancara) dan interviewee (narasumber/yang diwawancarai) dengan tujuan untuk mengetahui sesuatu. Esensi wawancara adalah komunikasi. Dengan demikian suatu wawancara haruslah mempunyai tujuan, efisien, dan menyenangkan bagi penonton.

Semua persiapan dekorasi sudah selesai sejak sore hari. Inilah keuntungan dari kelompok talk show. Mereka lebih leluasa menyiapkan dekorasi karena telah sejak awal mendapat jatah pertama. Ketika itu, Mas Triyanto Hapsoro salah seorang nara sumber sudah hadir. Sayang sekali, Mbak Maria Sasongko belum hadir. Jika terlalu lama tertunda tentu akan mempengaruhi kelompok lain. Maka nara sumber digantikan oleh salah satu tutor pendamping. Waktu itu disepakati bahwa Mas Tri Mul menggantikan Mbak Maria Sasongko. Eh, ketika semua siap untuk direkam, Mbak Maria datang. Keberuntungan! Meski terlambat, namun semua nara sumber dapat hadir semua. Semua narasumber itu berkait dengan dunia kewirausahaan. Tema kelompok ini memang berkait dengan dunia ekonomi. Judul talk show-nya adalah ”SWA: Semangat Wira Usaha Anda!

Mulai! Semua segera menempatkan diri pada posisi tugas masing-masing. Lik Agus sudah siap di control room bersama Sus Sisca (switcher), Mo Mento (penata suara), Galih (operator CG), dan Wahyu Nugroho (operator VTR). Di ruang studio Pak Sugeng (kamera 1), Eko (kamera 2), Dista (kamera 3), dan aku menjadi floor director! Yang tidak kalah penting adalah intervieweer-nya! Siapa dia? Syailendra! Arek ini, di samping wajahnya sudah oke, suaranya pun mantap! Lho trus Kania ke mana? Jangan salah! Dia tetap kebagian jatah yang juga penting. Si Endra itu, meski wajahnya oke punya, memiliki ”sumur” di wajahnya. Maksudnya, kalau kena panas sudah langsung keringatnya menghancurkan make up! Itulah tugas Kania! Menyiapkan wajah sang pewancara agar tampak oke disorot kamera. Makanya, sejak nara sumber belum siap, dia sudah mesti berjibaku dengan wajah Endra!

Waaa…..! Tegang? Banget! Meski sekedar belajar, tetap aja berkeringat. Lik Agus saja yang di control room ”teriak-teriak”. Nyuruh ini, nyuruh itu. Aku yang jadi asisten di ruang studio bingung juga. Harus memberi kode nara sumber agar berbicara lebih keras karena katanya kurang keras. Harus memberi kode pada Endra agar siap untuk menghadap ke kamera 1! Semua itu musti tanpa suara karena sedang direkam! Iyalah! Perekaman diulang, lho! Hooo…..! Mabok! Syukurlah semuanya dapat berjalan lancar.

Giliran kedua kelompok Dance Show! Semua orang, siapa saja, langsung bekerja cepat. Dekorasi milik kelompok talk show segera dibongkar. Kini ganti dekorasi kelompok dance show yang harus dipasang. Sebenarnya, menurut jadwal kelompok dance show rekaman terakhir. Namun, akhirnya dimajukan karena kelompok musical show justru akan memakan waktu lama untuk penataan suara! Iya! Mereka harus setel berbagai perangkat perekamannya! Dari sekian banyak alat musik, semua harus bisa masuk dan terekam! Inilah yang membuat kelompok dance dimajukan. Untuk kelompok kami ini, yang paling lama lebih pada penataan dekorasi. Kami harus menggantung beberapa aksesoris meja yang sudah kami siapkan. Itu saja! Tidak ada dekorasi lainnya! Penataan lampu pun tidak ketinggalan. Jika dalam talk show lighting tidak begitu mengambil peran penting, dalam dance show dan musical show pencahayaan memegang peran penting.

Begitu panggung dan dekorasinya selesai, kami mulai! Perekaman ini lebih pada perekaman gerakan saja karena untuk suara sudah diambil alih dengan musik pengiring dari CD yang telah dipersiapkan. Judul acara: New Generation: All Dance!

Di ruang kontrol Galih sudah siap memberi komando bersama Kania (switcher), Mo Mento (penata suara), Sus Sisca (operator CG), dan Pak Sugeng (operator VTR). Di ruang studio Syailendra mendapat tugas sebagai floor director, Eko (kamera 1), Wahyu Nugroho (kamera 3), dan aku (kamera 2). Untuk perekaman dance show, suasana sudah mulai kalem. Ketegangan tidak begitu terasa. Meski perekaman diulang dua kali, namun dapat berjalan lancar!

Kelompok Musical Show ! Uaaah……..sungguh menguras waktu dan tenaga. Mo Awan sebagai komandan beberapa kali musti berjibaku dengan situasi. Meski grup band sudah datang, namun Fikri di bagian penata suara belum siap. Inilah bagian pekerjaan paling berat bagi kelompok musical show. Persiapannya yang terakhir dan memakan waktu lama karena Fikri benar-benar harus menyiapkan segala peralatan perekaman secara maksimal!

Mendekati tengah malam, barulah mulai perekaman. Mo Awan di control room bersama Dista (switcher), aku (operator CG), dan Eko (operator VTR). Di ruang studio Syailendra masih menjadi floor director, sementara Lars (kamera 1), Akbar (kamera 2) dan Wahyu Nugroho (kamera 3). Kania mendapat tugas make up lagi! He…he…he…! Asyiknya ada cewek! Aksesori penyanyai jadi lebih gampang! Di mana Fikri? Oh, dia ada di ruang audio. Khusus untuk perekaman musical show, ruang audio berbeda tempat. Di sanalah Fikri berkutat dengan berbagai macam tombol di peralatan).

Huaaah………! Meski dua kali juga, perekaman selesai! Bener-bener menguras tenaga! Sukses, sukses sukses! Itulah rekaman terakhir: Musical Show! Tinggal menunggu evaluasi di hari berikutnya!

Oh, iya! Aku tadi menyinggung beberapa istilah. Iya sih, tidak gampang untuk memahami. Di dunia audio visual ini memang banyak istilah-istilah yang aku sendiri sering kurang paham. Begini kira-kira pengertian istilah itu! Program Director (PD) bertanggung jawab atas keseluruhan acara yang disusun, termasuk tamu (narasumber, penari, pemusik) dan kru. Floor Director (FD) adalah wakil PD yang langsung berhubungan dan mengatur tamu yang sedang on air. Kameraman yaa….tukang shooting itu! Yang ngambil adegan dah! Switcher adalah asisten PD yang bertugas mengambil gambar pilihan terbaik berdasarkan perintah PD di control room. Operator CG (waah…lupa aku kepanjangannya CG) bertugas mengatur title (tulisan, tulisan!) yang nanti muncul dalam layar, seperti judul acara, nama nara sumber, nama produksi, dsb. Operator VTR (lupa lagi!) ini bertugas merekam. Jadi dia tinggal mencet tombol record dan stop! Hwa…hwa….gampang (untuk sekarang). Dulu? Uah, lebih sulit. Nah, kalau penata suara itu bertugas menata suara (lha iya…) agar hasil rekaman menjadi bagus.  Orang bilang dia ini audioman! Kepekaan telinga harus bagus ini! Misal, bagaimana suara gitar bas, melodi, ritm, vokal, drum? Sudah seimbang belum? Ada tidaknya suara lain yang mengganggu! Penata suara inilah yang bertanggung jawab. Kalau dalam talk show, penata suara bertugas memutar musik intro dan ekstro, sedang pada dance show bertugas memutar musik pengiring. Agak ringan di dua bagian ini, namun sangat sulit di bagian musical show! Oke….! Semoga bisa dimengerti!

Belajar dan terus belajar! Rupanya ini yang menjadi kunci agar seseorang mampu berkembang. Belajar bekerja sama dalam tim benar-benar tidak gampang! Kuncinya adalah kerelaan diri dan hati! Sabar juga! Terlebih jika sudah bergesekan dengan limit waktu dan karakter teman kerja. Oho! Jangan anggap enteng! Namun yaitu tadi: belajar dan terus belajar! Entah sampai kapan!***



Tiga Show (2)
Januari 22, 2009, 2:28 pm
Filed under: Tentang Training | Tag: ,

(Uluk salam…! Lama sekali saya tidak melanjutkan tulisan di blog saya ini. Mohon maaf! Kepenatan hati menjadi alasan untuk unjuk gigi. Oleh karena kepenatan itu mau tidak mau harus saya abaikan, saya coba untuk menuliskan lanjutan dari tulisan-tulisan saya!)
Saya melanjutkan tentang pengalaman pembuatan produksi program studio. Saya menjadi bagian dari tim yang nantinya menggarap dance show. Setelah semua rencana kami matang, kami mulai menyusun langkah-langkah selanjutnya. Kami mulai berbagi tugas. Galih menjadi program director, Kania menjadi asisten. Magnus, Eko dan aku menjadi juru kamera. Peran-peran lain dibantu oleh teman yang lain.
Kami kemudian membicarakan rencana-rencana kami bersama tutor atau pendamping kelompok. Kelompok kami didampingi oleh Mas Tatang. Mas Tatang adalah tutor yang memiliki keahlian di bidang tata artistik. Dengan demikian, pendampingan Mas Tatang lebih menekankan pada pengelolaan artistik pada acara dance show. Mas Tatang memberi masukan bahwa tata artistik suatu pertunjukan juga perlu melihat sisi penampil atau dalam hal ini penarinya dan bentuk tampilannya atau dalam hal ini tarian/dance-nya. Kami mendapatkan informasi bahwa para dancer atau penari yang nantinya tampil adalah para siswa SLTA. Tarian yang nanti akan dibawakan merupakan modern dance.
Dari informasi yang terbatas itu, dengan dibantu oleh Mas Tatang kami mulai memikirkan tata artistiknya. Apa hubungan antara para penari yang masih SLTA itu dengan modern dance yang dipilih oleh mereka? Hal ini juga menjadi pemikiran untuk menentukan bentuk artistik. Dengan berbagai pertimbangan, kami akhirnya memutuskan bahwa setting yang akan kami tampilkan kombinasi antara kenyataan bahwa mereka anak-anak SLTA yang menggerami tarian-tarian produk luar negeri. Bentuk visualnya, kami nanti akan menggantung meja-meja dalam keadaan terbalik sebagai latar belakang para penari itu. Meja-meja yang berjumlah tiga buah (disesuaikan dengan tempat) merupakan visualisasi dunia sekolah. Digantung terbalik merupakan visualisasi suasana anak sekolah yang lebih menekankan dunia “heboh” tarian dibandingkan dunia pendidikan itu sendiri. Inilah setting tempat yang sudah kami rencanakan!
Kami juga memikirkan bagaimana pengambilan gambar penari-penari itu. Galih dan Kania tentu memiliki peran penting untuk menentukan gambar-gambar yang nantinya akan dipilih berdasarkan hasil bidikan kamera. Aku, Eko dan Magnus memberikan pilihan-pilihan rekaman gambar dengan optimal. Kami membicarakan sudut pandang dan gerak kamera yang nanti mampu merekam gambar yang terbaik. Kamera 1 dan 3 menjadi penentu yang lebih aktraktif dan enerjik sebagai penggambaran tarian itu. Kamera 2, meski sebagai kamera pengaman, juga harus memiliki pola pengambilan gambar yang baik dan enerjik.
Rencana sudah matang. Kami kemudian dipertemukan dengan para penari. Setelah bertemu, kami menjadi semakin tahu bentuk-bentuk tarian itu karena mereka kami minta untuk menampilkan tarian. Tarian itu kami pelajari lagi, sehingga nanti memudahkan Galih dan Kania untuk mengarahkan para juru kamera. Pembicaraan dengan para penari berjalan lancar. Ternyata salah satunya pernah menjadi talent ketika beberapa waktu lalu juga diadakan training. Lancar, lancar!
Mulaikan kami bekerja! Kami mencari barang-barang yang perlukan di gudang milik studio. Kami pilih beberapa meja yang bisa kami pergunakan. Meja itu ternyata tidak sekedar kami bersihkan. Warnanya yang terlihat kusam dan gelap, harus dicat ulang. Kami putuskan untuk mengecat dengan warna putih. Demi efektivitas, tugas mengecat itu kami bagi pada Magnus dan Eko. Sementara, Galih, Kania, dan aku menyiapkan detail pengambilan gambar. Maksudnya, setiap juru kamera memiliki bagian-bagian tertentu yang lebih khas, sehingga nanti hasilnya lebih baik. Kami menentukan juga rekaman gambar yang tepat dengan intro musik yang telah kami dengar.
Sungguh sangat disesalkan! Ketika waktu pengambilan, Magnus sakit! Dia tidak mampu untuk membantu! Kamera 3 harus dicarikan teman lain yang bisa. Syukurlah, Kania akhirnya memberi tahu kalau Wahyu Nugroho bisa menggantikan Magnus. Dengan demikian, kami tinggal menunggu waktunya!
Kendala ternyata masih harus kami hadapi. Waktu untuk pengambilan sudah dekat, namun kelompok lain yang lebih awal belum selesai. Kelompok pimpinan Lik Agus mendapat jatah merekam talk show. Acara ini molor mulainya karena nara sumber yang datang belum lengkap. Oleh karena itu, meski penari-penari di acara dance show sudah hadir, mereka masih harus menunggu. Padahal, setelah acara talk show itu, kelompok kami masih harus menata panggung dan menata cahaya atau lampu! Duh…duh…duh….!
Berat super berat! Namun, semuanya terasa ringan ketika dapat dikerjakan bersama-sama. Menyenangkan sekaligus melelahkan. Bagi kami, ini adalah salah satu kesempatan untuk menjukkan sikap saling bantu- membantu. Memang yang paling sangat melelahkan proses persiapan pentas ini. Kami harus menaikkan meja, menggeser tangga, menggantung meja dengan posisi yang tepat. Belum lagi, kami harus menata cahaya yang tepat. Sinar yang sesuai, namun terang dan jelas bagi pertunjukan itu nanti! ***



Tiga Show (1)
Desember 4, 2008, 2:26 pm
Filed under: Tentang Training | Tag: ,
Training Talk Show di Studio Audio Visual Puskat

Dista, Eko, aku, dan Pak Sugeng saat take talk show.

Apa saja yang kami lakukan untuk memproduksi tiga show di atas? Langkah pertama, kami dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok yang memproduksi talk show, kelompok yang memproduksi dance show, dan kelompok yang memproduksi talk show. Di dalam kelompok tersebut, kemudian setiap orang mendapat peran atau tugas seperti pada latihan alphabet show. Kalau lupa, silakan dilihat lagi pada judul ”Gangguan Untuk Lik Agus”. Ada beberap peran utama yang harus dipegang oleh anggota kelompok  dan ada peran yang boleh meminta bantuan anggota kelompok lain. Hal ini dikarenakan tidak setiap anggota kelompok dapat memegang peran karena terbatas. Dengan demikian, jika seorang Program Director dipegang anggota kelompok, maka Floor Director bisa dimintakan pada teman dari kelompok lain.

Langkah kedua, kami kemudian merencanakan berbagai hal berkaitan dengan program yang akan kami buat. Misalnya, kami merencanakan dekorasinya dan pertemuan dengan pemain. Ketika kami merencanakan dekorasi, kami didampingi oleh tutor. Tutornya setiap kelompok satu orang. Tutor ini akan memberikan pengarahan pada kami bagaimana mengatur dekorasi, termasuk tata cahayanya. Kemudian, sesuai dengan kesepakatan kami akan bertemu dengan pemain. Kelompok talk show akan bertemu dengan nara sumber yang nanti akan dihadirkan dalam acara talk show. Kelompok dance show bertemu dengan penari yang nanti akan ditampilkan dan kelompok musical show akan bertemu dengan anggota band yang diundang. Oleh karena ini merupakan tahap pelatihan, pihak panitia dari Studio Audio Visual Puskat sudah mempersiapkan. Kami tinggal berkomunikasi dan bekerja sama dalam pengambilan gambar dan rencana-rencana yang telah kami sepakati bersama.

Naa….bener kan? Tidak ada pekerjaan yang dapat dikerjakan sendiri. Ide bisa datang dari person, namun ketika ide itu harus direalisasikan, perlu orang lain juga kan? Makanya, inilah kesempatan lanjutan untuk melihat hasil kerja bareng ini. Lanjut di bagian kedua nanti!***



Gangguan Untuk Lik Agus
November 18, 2008, 2:40 am
Filed under: Tentang Training | Tag: ,

Alphabet Show, Training Studio Audi Visual PUSKATSetelah praktik OMT, kegiatan dilanjutkan dengan pengantar studio televisi dan Standard Operational Procedure bagi rekaman studio. Kegiatan pagi selesai, kemudian dilanjutkan dengan praktik di studio indoor. Latihan kali ini disebut dengan ”Alphabet Show”. Sessi ini sebenarnya sebagai latihan dalam pelatihan lanjutan yaitu produksi program televisi. Pelaksanaan produksi bisa saja hanya memerlukan waktu 30 menit. Akan tetapi, ini hanya bagian kecil dari keseluruhan proses produksi. Jauh sebelum kita masuk ke studio dan control room, program harus direncanakan dan dipersiapkan secara rinci.

Untuk itulah, kami mulai berlatih untuk mengenal berbagai aspek produksi ini. Alphabet Show hanyalah pengantar dari produksi televisi. Diandaikan bahwa setiap orang sudah mulai bisa mengenal peralatan yang akan digunakan nanti. Artinya, sejak pelatihan-pelatihan sebelumnya, kami sudah dikenalkan dengan berbagai aspek dan pada saat ini kami tinggal mempraktikkannya. Misalnya, kami sudah diajari penggunaan kamera. Kami juga sudah diantar dalam pengolahan suara (tata suara, mixing), dan kami juga dikenalkan dalam pengolahan lampu (tata cahaya, lighting). Kesemuanya itu nanti akan dipadukan dalam program-program pelatihan selanjutnya.

Pada bagian Alphabet Show ini, setiap orang dibagi menjadi beberapa peran. Peran-peran itu misalnya Producer, Program Director, Assistent Director, Production Assistent, Technical Director, Audio Technician, Lighting Director, Art Director, Video Tape Operator, Cameraman.

Dalam kegiatan ini, kami dilatih untuk merekam urutan alfabet dari A-Z dengan iringan lagu yang statis. Lagu yang digunakan adalah lagu instrumen Gambang Suling. Langkah-langkah yang kami lakukan demikian:

Di bagian control room, seorang Program Director ditemani Assistent Director mempersiapkan diri. Mereka akan mengurutkan dari huruf-huruf yang direkam oleh kamera di studio. Pergantian urutan huruf ditentukan dengan ketukan-ketukan pada nada lagu instrumen Gambang Suling. Di ruangan tersebut, tersedia lima monitor. Tiga monitor akan menampilkan hasil shoot tiga kamera di sudio. Satu monitor menampilkan gambar yang siap untuk diambil (take). Satu monitor adalah tampilan gambar sebenarnya jika itu ditayangkan. Dapat dibayangkan, jika seorang Program Director harus mendengarkan alunan musik, melihat monitor-monitor, mengarahkan asisten, dan melihat hasil yang harus ditampilkan. Dia harus memeras perhitungan. Belum lagi dia harus mengarahkan juru kamera dan Floor Director di ruang studio demi mendapatkan hasil gambar yang fokus dan bagus.

Di sinilah latihan ini benar-benar membingungkan. Kami betul-betul harus berkeringat dan tegang karena tugas itu. Tidak ada peran yang terlewatkan. Semuanya akan mengalami.

Di studio, akan bertugas orang-orang sebagai Floor Director, juru kamera, penyusun alfabet. Tugas Floor Director adalah penghubung antara penyusun alfabet dengan Program Director. Dia harus memantau pergantian huruf yang musti diambil oleh juru kamera.

Dasarnya juga Lik Agus! Kalau memang udah kocak, di mana-mana bikin heboh! Kapan pun dan di mana pun pasti rame. Dalam kegiatan yang mustinya harus konsentrasi, Lik Agus malah berbuat heboh!

Sudah jelas tugas itu benar-benar tidak gampang, eh….Lik Agus masih sempet-sempetnya bergurau dan tidak serius. Santai tetapi serius itu jauh lebih penting. Terkadang, dia memberi komentar berbagai macam. Sehingga kadang membingungkan juru kamera. Padahal, Program Director-lah yang wajib memberi perintah pada juru kamera. Berkali-kali hal ini terjadi. Bahkan, komentarnya yang mengundang tawa itu lama-lama membikin gerah suasana. Bukan marah pada Lik Agus, tetapi menjadi keki juga. Apalagi melihat Lik Agus yang bertugas menjadi Floor Director! Sambil kerja, masih sempat-sempatnya berjoged diiringi lagu instrumen Gambang Suling itu!

Aha! Saking kekinya, Fikri mempunyai ide jitu! Nanti kalau Lik Agus mendapat jatah menjadi Program Director, dia diganggu saja. Bagaimana caranya? Fikri kemudian melihat jadwal tugas di dinding. Di situ akan tertera nama-nama kami, kapan dan siapa yang harus bertugas di urutan berikutnya. Naah….! Ketahuan sekarang! Fikri memegang Kamera1, Indra memegang Kamera 2, dan aku memegang kamera 3! Beres! Tiga orang ini akan bisa ”mengacau” kerja Lik Agus! Ha…ha…ha…! Iseng tetapi menyenangkan!

Ketika Lik Agus menjadi Program Director yang harus mengatur perpindahan huruf, para juru kamera mulai beraksi. Begitu musik intro masuk, Lik Agus memerintahkan pada Floor Director untuk menyiapkan semua kru di ruang studio. Ketukan pertama harus siap mengambil gambar huruf A. Ketukan kedua harus mengambil gambar huruf B. Begitu seterusnya!

Namun apa yang terjadi. Kami yang menjadi juru kamera mulai bertindak konyol. Kamera tidak kami fokuskan! Pengambilan gambar yang diminta harus close up, sengaja kami buat long shot. Bahkan ada juga yang mengacau dengan mengambil wajah teman kami yang bertugas mengganti huruf-huruf itu!

Jika normal, Program Director tinggal memerintahkan asistennya untuk mengambil gambar yang sudah bagus. Gambar bagus tentu sudah diambil oleh para juru kamera.

Sayangnya, Lik Agus sedang kami ganggu! Berkali-kali dia memerintahkan juru kamera untuk memfokuskan gambar, mengambil close up, dan perintah lain. Tak pernah kami pedulikan. Lama-lama dia sadar juga kalau diganggu. Kami pun yang di ruang studio tertawa-tawa saja. Apalagi kalau mendengar celotehnya! ”Kamera 1, tolong fokus! Kamera 2, siap mengambil huruf…! Kamera 3! Aduh…! Kamera 3 siapa yang pegang! Itu jangan mengambil wajahnya Larso! Waaah….! Ada pemberontakan ini! Saya dikudeta ini! Siapa dalangnya! Waaah! Payah tenan!”

Sampai musik selesai, Lik Agus masih mobat-mabit mengatur juru kamera. Ha…ha…ha…! Gangguan untuk Lik Agus yang paling membikin perut kaku sakit karena saking banyaknya tertawa! Selamat ya Lik! Mentang-mentang sudah biasa membuat film, terus tampak menyepelekan saja! Senang sih senang, tetapi kalau keterlaluan ya….kacau sendiri!

Pada saat tertentu, dalam suatu acara tertentu, kita memang mesti memperhatikan situasi. Meski kita seorang periang pun, jika sedang melayat, tak mungkin tertawa terbahak-bahak mendengar cerita lucu seorang teman di dekat kita. Istilahnya, empan papan! Ada saat-saat tertentu orang mesti mengerti situasi di sekitarnya! ***



Hi…hi…! Jadi Reporter!
Oktober 30, 2008, 12:16 am
Filed under: Tentang Training | Tag: ,

Kelompokku sedang latihan OMT

Apalagi latihan lanjutan? OMT alias One Minute Talk! Pendeknya, ngomong di depan kamera tak perlu lama-lama. Mesti hanya semenit? Ya…itu kan pengandaian. Boleh lebih, tapi sedikit saja! OMT ini dapat dilihat dalam tayangan seorang reporter yang melaporkan suatu berita, baik langsung atau tidak langsung. Saat melaporkan itu, reporter yang nongol di depan kamera tidak terlalu lama. Ah, jadi latihan jadi reporter? Tepat! Trus, apa saja yang dipersiapkan?

Pertama-tama, kami dibentuk dalam kelompok-kelompok lagi. Sebelum masuk dalam kelompok, setiap orang diberi tugas. Oleh Mbak Rini, tutor yang mendampingi kami, setiap orang boleh membawakan suatu topik tertentu yang nanti disampaikan di hadapan kamera dan direkam. Waaa…..jadi direkam ya? Iyalah! Nantinya, hasil itu akan dievaluasi bersama. Meski hanya latihan, namun tidak boleh main-main. Karena pada dasarnya demi perkembangan yang makin oke, maka topik yang hendak dibawakan pun perlu matang. Data itu mesti! Sumber itu penting. Makanya, setelah pengantar, kami diberi kesempatan untuk menyiapkan diri. Ada teman yang segera membaca koran, membaca buku di perpustakaan Puskat, ada yang browsing di internet dengan hapenya, dan macem-macem. Begitu semua siap, bahan itu harus diramu dalam sebuah draf kasar. Dalam draf ini, butir-butir yang hendak diomongkan ditulis dan kemudian dihafalkan. Uaduuhhhh…….! Bener-bener deh!

Siang hari, setelah makan, praktik OMT segera dilaksanakan. Setiap orang terbagi dalam kelompok yang sudah ditentukan. Aku satu kelompok dengan Pak Sugeng, Lars, Sus Sisca, dengan pendamping lapangan Mas Budi. Begitu semua lengkap berkumpul, setiap orang dalam kelompok kemudian berbagi tugas. Jika urutan pertama dia menjadi repoternya, maka yang lain bertugas menjadi juru kamera, sutradara, dan audioman! Juru kamera bertuga merekam. Sutradara bertugas mengarahkan reporter. Audioman bertugas mengatur suara/tata suara. Begitulah semuanya terbagi dengan adil.

Paling susah ya…menghafal butir-butir yang hendak diomongkan di depan kamera. Maka, ya…sedikit agak tidak mudah. Ada yang ingin belakangan saja karena belum hafal. Akhirnya, daripada tidak segera dimulai, aku menyanggupi untuk memulai saja. Latihan dulu, berkali-kali, kemudian direkam. Saat direkam saja, masih ada kesalahan, sehingga harus diulang. Aku membutuhkan dua kali pengambilan gambar. Pak Sugeng dua kali. Sus Sisca dan Lars sekali saja.

Masalahnya, ketika mulai pengambilan gambar Sus Sisca, hari mulai gelap. Padahal pengambilan gambar masih menggunakan arena di luar studio. Untunglah Mas Budi terus memberi pengarahan. Begitu gelap, kami diminta untuk mengambil lampu penerang di studio. Wahh…..ini sudah langsung prakti lighting dan tata suara! Ya…semuanya belajar malalui pekerjaan yang kami lakukan. Paling terakhir adalah Lars. Begitu malam tiba, bahan yang dia siapkan rupanya tak sesuai dengan situasinya. Lokasi pertama pengambilan gambar di ruang makan. Namun semakin lama ruang makan semakin ramai dengan teman-teman dan pendamping yang hendak makan malam. Maka harus dipindahkan. Akhirnya pindah ke dalam studio. Begitu pindah, topiknya harus ganti baru. Waaa……mesti menghafal lagi! Pusing dah Lars! Hampir putus asa. Syukurlah meski tersendat, tugas kelompok tetap selesai dan semua kebagian untuk akting di depan kamera!

Kepercayaan diri itu penting. Dalam situasi apapun, seseorang perlu memilikinya. Bahkan, hanya dalam sebuah simulasi atau ”bermain-main”, sikap itu tetap mutlak perlu, apalagi dalam sebuah kegiatan yang sesungguhnya. Selain itu, dengan bermain-main di depan kamera, aku menjadi mengerti bahwa tugas seorang pelapor ke hadapan khalayak umum memiliki tugas tidak ringan. Selain harus tampil meyakinkan, menarik, dan enak didengarkan laporannya, dirinya musti bisa mengkaji setiap data yang harus disampaikan. Inilah yang terkadang menjadi kendala untuk bisa tampil meyakinkan! Tapi ya….maju saja terus! Meski semua sudah mengalami akting, toh tak semua harus tampil di depan kamera. Mesti ada jatah tersendiri untuk setiap orang orang, sehingga dirinya menemukan talenta yang hidup di dalam dirinya. ***



Praktik Kamera…
Oktober 10, 2008, 3:21 am
Filed under: Tentang Training | Tag:

Dasar-dasar pengenalan kamera foto selesai. Bahan yang diberikan selanjutnya adalah pengenalan kamera video. Ternyata mengenal kamera foto itu memberi landasan bagi seseorang agar mampu mengoperasikan kamera video. Masalahnya, dalam mengoperasikan kamera video juga diperlukan kemampuan untuk merancang komposisi, memahami pandangan kamera, framing, dan pusat perhatian. Mas Yanto menyampaikan bahwa foto yang menarik adalah foto yang bisa memberi kesan yang dalam. Foto yang mampu membawa emosi penonton. Foto tentang keindahan, kegembiraan, kesedihan, kekejaman, dan sebagainya. Nah, bedanya dengan video hanyalah objek yang terekam itu bergerak. Pada dasarnya semuanya tetap harus memegan prinsip-prinsip kamera, baik foto maupun video.

Kali ini, Pak Darman memberi banyak pengenalan tentang kamera video. Jika sudah memasuki tahap ini, berarti kami sudah mulai dikenalkan dengan sinematografi. Ini secara umum diartikan bahwa dalam sinematografi seseorang belajar bagaimana membuat gambar bergerak, seperti apakah gambar-gambar itu, bagaimana merangkai potongan-potongan gambar yang bergerak menjadi rangkaian gambar yang mampu menyampaikan maksud tertentu atau menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan suatu ide tertentu. Dalam bagian ini, mulailah dikenalkan arti-arti tertentu dalam bidang sinematografi, misalnya shot, scene, sequence, camera angle, cutting, dan istilah-istilah lainnya.

Pak Darman kemudian mengantar pengenalan kamera televisi. Ya…ini penting! Karena kamera inilah yang nantinya akan digunakan untuk seluruh acara training. Kamera itu terdiri dari tiga bagian utama yaitu lensa, kepala kamera, dan viewfinder. Ketiga hal ini adalah pemahaman dasar agar seseorang mampu menguasai kamera televisi.

Setelah dijelaskan panjang lebar, latihan berikutnya adalah menyusun suatu ”camera script”. Camera script ini digunakan sebagai pegangan seseorang untuk mengambil gambar. Tidaklah mungkin seseorang pergi ke suatu acara tanpa menyiapkan camera script ini. Jika dilupakan, akan banyak gambar yang diambil tanpa pemikiran terlebih dahulu dan bisa-bisa terbuang percuma. Oleh karena itu, jika sudah memiliki alur cerita yang hendak disusun, itu kemudian dipindahkan ke bentuk camera script ini. Misalnya, akan merekam tindakan orang mencuci piring. Alur ceritanya adalah kegiatan mencuci piring. Kegiatan mencuci piring kemudian diubah ke camera script menjadi beberapa shot. Ah, sulit amat membayangkannya!

Agar tak sulit membayangkan, kemudian kami diberi kesempatan untuk langsung mempraktikkan camera script yang sudah kami buat. Dalam praktik kamera ini, aku menjadi satu kelompok dengan Pak Sugeng, Fikri, Sus Sisca dan didampingi oleh Mas Hari. Apa saja yang kami siapkan? Pak Sugeng menyiapkan adegan orang berdoa, Fikri menyiapkan adegan orang ”kebelet” ke wc, Sus Sisca menyiapkan adegan orang mencuci piring, dan aku menyiapkan adegan seseorang mengambil ember di halaman.

Praktik pertama adegan orang mencuci piring. Sutradara Sus Sisca, juru kamera Fikri, clipper aku, dan talent Pak Sugeng. Tugas clipper adalah pencatat adegan dan talent adalah seseorang yang mendapat tugas sebagai tokoh yang memperagakan adegan tersebut. Nah…., untuk mendapatkan adegan mencuci piring, Sus Sisca tentu tak sekedar menggambar satu camera script. Dia telah menyiapkan beberapa gambar yaitu 1) gambar talent berjalan ke dapur, 2) gambar talent menuju ke tempat cucian, 3) gambar talent memegang piring kotor, 4) gambar talent memutar kran, 5) dan seterusnya. Gambar-gambar ini dipakai untuk acuan pengambilan gambar. Tentu saja, setiap shot itu berbeda-beda, agar mendapat hasil yang bagus. Misalnya, ada shot close up wajah talen, tangan mencuci piring, shot medium long shot talent, dan macam-macam! (Uh…..mana istilahnya sulit-sulit, lagi!)

Dalam adegan-adegan lain, hal itu juga berlaku. Tentu saja latihan praktik ini tidaklah langsung berjalan dengan baik. Selain harus bisa membuat camera script, aku dan kawan-kawan juga harus menguasai kameranya. Kapan harus memfokuskan objek; kalau gambar kabur, apa yang yang harus diatur; kapan harus mengurangi tinggi tripod (penyagga kamera), dan sebagainya.

Praktik kamera ini dilakukan dari pagi lebih kurang pukul 10.00 sampai dengan makan siang. Sorenya, segala hasil rekaman adegan ditampilkan untuk diberi evaluasi. Ah, ternyata macam-macam adegan yang dihasilkan oleh teman-teman. Ada adegan mencuci pakaian, adegan menulis surat, penjaga mengantuk di ruang jaga, salah parkir, memotret bunga teratai, santai di taman, dikejar hantu, dan macam-macam. Hasilnya pun lebih bermacam-macam! Boleh dibilang acakadulnya bikin geli seluruh peserta. Sayang sekali praktik kamera ini hasilnya tidak diberikan pada peserta training.

Di sinilah bentuk kerja sama dengan orang lain semakin terasa. Kelemahan dan kelebihan teman akan semakin tampak. Pada saat ini, dibutuhkan sikap memahami orang lain, terlebih semuanya masih dalam taraf sama-sama belajar. Kalau sikap saling memahami ini tak diberi tempat, bisa jadi seseorang akan merasa paling bisa atau paling tidak bisa. Kerja sama pun bisa-bisa batal dipraktikkan! Emangnya, membuat film itu bisa dikerjakan sendiri?***



Hunting Foto
September 25, 2008, 1:10 pm
Filed under: Tentang Training | Tag: ,

Dalam training ini, setelah perkenalan dan diberi pengantar tentang dasar-dasar komunikasi, para peserta kemudian diberi materi tentang dasar-dasar fotografi. Mas Yanto, tutor kami, bilang bahwa  sekarang ini banyak sekali orang yang memiliki kamera. (Benar juga, pikirku. Kamera udah kayak kacang yang dijual di sembarang tempat dan dikantongi setiap orang dengan mudah). Dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat dalam pembuatan kamera, memotret menjadi suatu pekerjaan yang sangat mudah. Untuk membuat foto saja, tinggal menekan satu tombol di kamera, kemudian kamera yang canggih sudah bisa mengatur segala sesuatu secara otomatis. (Mudah banget! Anak kecil pun sudah mampu melakukannya!)

”Akan tetapi, di antara banyak orang yang bisa memotret itu, yang benar-benar pantas disebut pemotret sebetulnya hanya sedikit,” tambah Mas Yanto. Menurutnya, pemotretan yang baik bukan hanya sekedar operator kamera saja, tetapi juga seniman yang mampu mengekspresikan ide-idenya melalui hasil karya foto. Bagaimanapun canggihnya kamera, tanpa dibekali dengan pengetahuan tentang fotografi, mustahil orang dapat membuat foto yang baik. Suatu foto yang bernilai dihasilkan oleh kreativitas pemotret yang didukung dengan kemampuannya dalam mempergunakan kamera. ”Kalau kita ingin menjadi pemotret yang baik, tidak bisa ditawar lagi, salah satu syarat utamanya adalah memperdalam pengetahuan dan keterampilan kita mempergunakan kamera,” tekan Mas Yanto.

Oh, oh! Tak gampang juga jadi juru potret! Meski kuakui, aku memegang kamera sudah lama, namun secara teori, aku kurang menguasai materi fotografi. Dari kamera ecek-ecek sampai yang canggih sudah pernah kupegang. Nah, sekarang aku mau belajar tentang teorinya.

Setelah menyampaikan pengantar di kelas, Mas Yanto kemudian memberi tugas untuk ”hunting” foto. Kegiatan ini terbagi menjadi dua hari. Satu hari ”hunting” foto dengan minat pribadi. Satu hari lanjutannya minat berdasar kelompok. ”Hunting” pertama dilakukan di sekitar Malioboro. Setelah makan siang, aku dan teman-teman kemudian dibagi dalam kelompok. Kami diantar ke Malioboro dengan didampingi para tutor. Sambil jalan, aku pun mulai terlibat dalam perbincangan ringan. Laah…kenalan juga sih!

Setibanya di sana, setiap kelompok pun menyebar ke berbagai sudut. Oh iya! Kamera yang kami pakai untuk latihan itu adalah jenis kamera Single Lensa Reflex (SLR) yang masih analog. Kameranya lebih gede dari kamera Rangefinder atau lebih mudah aku menyebutnya kamera saku atau poket! Maka, ya kami harus mengisi dengan film. Meski sudah pernah pegang digital, di training ini tetap harus ”nunduk” demi kemajuan. Maksudku, membuka diri akan segala macam masukan. Kamera analog pun hasilnya masih jooossss tenan!

Kelompokku terdiri dari Pak Sugeng, Mo Awan, dan Sus Sisca dengan didampingi Mas Hari. Aku dan teman-teman kemudian keliling. Cari objek, jepret sana, jepret sini! Jalan lagi, tengok kanan, tengok kiri, jepret lagi! Naaa, gantian dong! Kamera satu kelompok hanya satu! Awas, jangan lupa diatur diafragma dan rana-nya! Waduh….pusing juga ya! Begitu waktu selesai, kami semua kembali ke tempat. Ngantuk dan lelah juga. Namun setelah tiba di sana, kami harus sudah menyiapkan diri lagi. Kami harus mempresentasikan hasil jepretan itu!

Sekarang emang canggih. Meski pakai film, hasil foto sudah dapat ditranfer ke CD, dari CD dipindah ke hardisk. Nah, di situlah setiap kelompok bekerja. Setiap anggota memilih foto yang dipandang paling bagus, terus diberi judul. Foto dijadikan satu folder dan kemudian akan ditampilkan satu demi demi satu di layar LCD! Waktu itu, aku menampilkan foto tukang becak yang tertidur di becaknya. Judulnya: Lelah!! (Sayangnya, foto tidak bisa kubawa setelah training).

Mulailah kritik-kritik itu. Aku bukan merasa takut untuk dikritik. Tapi merasa bangga juga ketika hasil fotoku mendapat masukan. Kritikan penting banget. Karena aku menjadi mengerti objek yang belum tetap. Atap dan rangka becak yang semula tidak terpikirkan, setelah dikomentari ternyata merupakan ”frame” yang bagus. Sekarang baru mengerti bahwa bingkai dalam bingkai itu bagus juga. Ada kelebihan cahaya yang masuk. Nah, ini perlu dikurangi. Kemudian ada wajah lain yang terpotong. Ini jangan sampai terjadi. Kendati masuk frame namun bukan objek utama, tetap jangan sampai terlihat janggal! Hati-hati!

Asyik! Foto-fotoku menuai komentar. Teman lain juga demikian! Aku juga belajar dari mereka. Meski aku sudah sering mengambil gambar, aku tetap harus bisa belajar dari hasil kerja mereka juga. Ah, bagus-bagus kok!

Belajar untuk berkembang itu penting. Bagiku tak ada kata terlambat untuk belajar apapun. Juga, tak rugi belajar dari orang lain. Meski terkadang, aku perlu membuka hati dan merendahkan diri. Bisa saja, tersimpan rasa ”aku lebih mampu” di dalam diri, aku berusaha untuk tunduk dan melihat ada hal lain yang akan memperkaya diriku. ***



Bertemu Teman Jerman
September 18, 2008, 12:09 am
Filed under: Tentang Training | Tag: ,
Aku, Mo Mento, dan Lars.

Aku tahu namanya juga ketika membaca daftar yang terpasang. Namanya Lars Stenger. Lars, panggilannya! (Di kemudian hari, para tutor dan teman-teman sering memanggilnya Larso. A, a, a….!) Wah, hebat juga nih! Ketika kulihat namanya, aku sudah yakin dia pasti bukan asli orang Indonesia, apalagi wong Jawa! Benar juga, setelah perkenalan, dia berasal dari Jerman dan sekarang sedang dalam tugas di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Sejak tahun 2005 lalu dia berada di Indonesia. Sekarang masih terlibat dalam beberapa proyek di lembaga itu. Nah, kali ini aku hanya ingin bercerita tentang Lars selama training saja. Apa yang menarik bertemu Lars?

Ketika pertemuan pertama yang dipandu Mas Tri Mul, kami diberi kesempatan untuk bermain-main dengan perintah yang telah diatur oleh Mas Tri Mul. Setiap peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari dua orang. Permainannya sudah umum. Satu orang diminta memberi komando dan satu orang menjalankan perintahnya. Kemudian Mas Tri Mul membagi perintah dan tugas itu di dalam amplop. Begitu perintah sudah disampaikan, kami semua mulai bekerja. Inti pekerjaannya sebenarnya sepele. Menyusun potongan-potongan kertas (puzzle) menjadi huruf “T”. Hanya saja, di antara dua orang yang menyusun permainan tadi, diberi pembatas sehingga tidak dapat saling melihat hasil kerja.

Lars berpasangan dengan Mo Mento. Yang menjadi komando Mo Mento dan Lars harus mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh Mo Mento. Kebetulan mereka duduk di samping aku dan Galih (Galih menjadi pasangan bermainku). Aku dan Galih saja kesulitan menyusun potongan itu karena antara perintah dengan pelaksanaan sering terjadi miskomunikasi, apalagi Lars dan Mo Mento. Mereka seru sekali. Memang sih, Lars sudah mampu berbahasa Indonesia, namun ada juga ”bolong-bolong” pemahaman. Ketika diminta untuk menyusun huruf “T” itu, dia masih sangat bingung untuk mengartikan perintah Mo Mento. T? T yang seperti apa? Apa itu T? Apalagi, Mo Mento tidak memberikan perintah dengan bantuan bahasa Inggris. Wah, sangat terasa Lars kesulitan banget! Belum lagi, dia menangkap perintah menyusun huruf  itu, apakah “T” atau “t”?

Kemudian, ada sesi praktik kamera. Sesi ini dilakukan setelah kami semua mendapatkan teori dasar-dasar kamera TV dari Pak Darman dan Mas Ito. Dalam sesi praktik kamera, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kebetulan sih, aku tidak satu kelompok dengan Lars. Nah, yang ingin kuceritakan adalah ketika melihat hasil praktik kelompok. Setiap anggota diberi kesempatan untuk tampil di depan kamera. Sementara yang lain pun diberi kesempatan untuk menjadi juru kamera, sutradara, dan clipper. Hi…hi…hi…., lucu sekali melihat hasil praktik itu. Memang sih, semua peserta menjadi geli dengan hasil praktik itu. Saat hasil kelompok Lars ditampilkan, Lars ternyata diberi lakon menjadi seorang pemuda yang sedang menulis sebuah surat cinta pada pacarnya. Yah…., penampilannya pun mengundang tawa. Bukan hanya menertawakan Lars atau kesalahannya, namun memang hasilnya benar-benar menggelikan. Bukan hanya hasil kelompok Lars, kelompok lain juga demikian. Ada seorang kawan berceletuk terhadap penampilan Lars. ”Eh, si Larso kelihatan malu sekali tuh!” Iya, ya! Jadi kelihatan salah tingkah begitu! Ha….ha….ha….!

Nah, setelah kejadian itu, kegiatan lain bergulir hingga sampai pada praktik One Minute Talk (OMT). Di sinilah aku bersama-sama satu kelompok dengan Lars. Kelompokku itu terdiri dari aku, Sus Sisca, Pak Sugeng, dan Lars. Setiap orang diberi kesempatan menjadi presenter, sutradara, juru kamera, dan penata suara. Dari aku, kemudian Pak Sugeng, dilanjutkan Sus Sisca, dan akhirnya Lars yang terakhir. Tidak terbayangkan kalau latihan OMT itu akan menyita waktu dan melelahkan. Selain harus menghafal naskah yang hendak diomongkan di depan kamera, kami juga musti menyiapkan mental juga. Lah, kan nanti bakan dievaluasi. Tidak gampang juga, meski sekedar latihan. (Jadi kebayang kalau reporter itu berat! Super berat, abieesss!) Menghafal naskah, harus ngomong dengan jelas, dan tampil dengan segar. Meski agak seret, aku, Sus Sisca, dan Pak Sugeng terbilang cepat selesai. Ketika giliran Lars inilah yang membikin kasihan termasuk juga lucu! Dia benar-benar tegang! Hampir putus asa. Sudah menyiapkan naskah dalam bahasa Indonesia, namun belum hafal juga. Kemudian diubah ke dalam bahasa Inggris, belum mantap juga. Lalu diganti ke bahasa Jerman. Begitu oke, mulai shooting, suasana sudah kurang mendukung. Rencana semula di ruang makan, tetapi karena sudah terlanjur malam, ruang makan sudah penuh orang yang hendak makan malam. Gagallah rencana awal. Kemudian karena harus pindah tempat, Lars musti menyiapkan naskah baru. Naskah pertama berbicara tentang rokok. Trus, naskah kedua bingung dia. Lamaaa…..sekali harus menentukan tema naskah dan tempat.

Akhirnya disepakati shooting di dalam studio. Ketika di dalam studio, suasananya harus disesuaikan lagi. Belum lagi, dia harus menyusun naskah baru. Dia bahkan sempat tidak ingin melanjutkan. Syukurlah Mas Budi yang mendampingi kami itu tetap memberi semangat pada Lars. Kami juga dengan sabar menunggu Lars untuk menyiapkan naskah dan menghafalkan.

Kami menunggu sampai Lars siap. Ketika Lars siap, kami pun segera mengambil tempat yang sesuai. Agak lama juga menunggu kesiapan Lars. Berkali-kali Lars menyatakan minta maaf karena merasa mengganggu, sehingga makan malam menjadi terlambat. Meski sangat lambat (kelompok kami ternyata kelompok paling akhir), semua orang mendapat kesempatan. Lars pun akhirnya bisa ber-OMT di depan kamera. Meski tersendar, dalam bahasa Jerman, Lars berhasil. Intinya, dia bercerita tentang suasana studio yang sedang digunakan untuk training. Huaah…..! Lega sekali, dan Lars tersenyum dengan lebih lega!

Itulah Lars, seorang Jerman yang masih tetap ingin menguasai bidang media komunikasi. Meski sebenarnya, dia bisa saja langsung mempergunakan jasa SAV Puskat jika hendak membuat dokumentasi proyek LSM-nya. Namun baginya tidak sekedar itu. Lars pun berani belajar seluk beluk media komunikasi audio visual. Mungkin dalam hal ini, Lars benar-benar bukan sosok yang bisa tampil di depan kamera. Oleh karena itu, dia perlu dukungan untuk tidak putus asa. Akan tetapi, di bagian lain, dia tentu akan bisa tampil lebih baik dan lebih mampu. Dukungan ini ternyata menjadi perjuangan dalam hidup. Seseorang yang belum berani untuk menampilkan dirinya, itu bukan berarti tidak bisa. Melainkan hanya karena kurang percaya diri. Di sinilah dukungan kawan lain itu perlu. Sikap mendukung dan mengerti akan mampu mengangkatnya dari rasa tidak mampu ke sikap berani mencoba dan akhirnya mampu. Lars, akhirnya bisa juga tampil. Soal kekurangannya? Yang lain pun masih memiliki kekurangan. ***



Bertemu Teman Kocak!
September 15, 2008, 3:29 am
Filed under: Tentang Training | Tag: ,

Kubaca namanya pada daftar peserta yang ditempel di dinding Wisma Paranggaruda. Agus Waryanto dalam kurung Agus Merdeka. Kok namanya dua? Pakai ”merdeka” lagi? Apa dia salah satu wartawan dari Suara Merdeka dengan nama samaran Agus Merdeka?

Waktu perkenalan di ruang pertemuan malam itu, belum kelihatan sesuatu yang beda dengan dia. Belum ada sesuatu yang sangat khas tentang Mas Agus Waryanto ini. Hingga suatu hari, ketika ada sesi hari kedua, tampaklah kekhasannya. Ketika Kania bertanya sesuatu kepada salah seorang tutor, dia ini juga turut menambah jawaban. Naa…nada bicaranya itu terdengar lucu. Medok, medoknya itu lucu! Ini medok dalam arti Indonesia, bukan medok arti Jawa. Medok itu, kental banget aksen bahasa daerahnya. Kalau ”medok” dalam bahasa Jawa artinya main perempuan.

Nah, dia ini selain medok, suaranya juga keras. Itulah yang bikin temen-temen lain tertawa kalau mendengarnya. Ketika sesi Mo Is di hari berikutnya, ada jawabannya yang langsung bikin tertawa seluruh kelas. Dia waktu itu ditanya namanya.

”Anda namanya siapa?” tanya Mo Is.

”Lik Agus!” jawabnya keras dan spontan.

Kami semua langsung tertawa tergelak-gelak. Sejak saat itulah, kami memanggilnya Lik Agus. Dia malah senang dengan panggilan itu.

Kekhasan lainnya? Apapun selalu dikaitkan dengan dunia kemiliteran. Selain dipanggil Lik Agus, dia juga dipanggil Jendral! ”Mari kita rebut kemenangan. Kita hancurkan musuh kita!” teriaknya dengan mata melotot lucu! Begitulah Lik Agus di mata kami. Segala tindak tanduknya memiliki kekonyolan yang lucu.

Akan tetapi, jangan salah juga! Meski begitu, dia telah mengantongi banyak pengalaman berkaitan dengan pembuatan video. Memang sih, dia ikut training lebih sebagai penyegaran saja. Sebelumnya, sudah banyak dokumentasi bentuk video yang dia buat. Beberapa contoh sempat dia bawa. Kalau di kelas, dia juga banyak memberikan masukan kepada kami yang belum berpengalaman.

Aku sendiri hanya sempat bekerja sama satu kali dengan Lik Agus. Waktu itu, sudah memasuki pada produksi format iklan, video klip, dan wawancara. Sebenarnya aku mendapat jatah di video klip. Namun oleh pendamping diperbolehkan untuk berganti kelompok pada minat yang lebih cocok. Aku merasa di video klip kurang cocok. Pemikiranku nanti ke depan aku juga tidak akan membuat banyak video klip. Sebenarnya ada minat di wawancara, namun teman lain sudah lebih dahulu bertukar. Syukurlah, Fikri yang sebelumnya di iklan layanan masyarakat, mau bertukar denganku. Aku pindah ke iklan layanan masyarakat, Fikri pindah ke video klip.

Nah dalam pembuatan iklan layanan masyarakat inilah, aku bergabung dengan Lik Agus. Ada-ada saja tindakannya yang kocak. Namun bagiku cukup menghibur. Pengalamannya yang telah banyak tentang penyutradaraan turut membantuku. Dalam kelompok ini, dia menjadi sutradara, sedangkan aku diminta sebagai editor. Tentu saja dalam latihan semua terlibat, termasuk Mo Awan dan Sus Sisca. Iklan itu kami beri judul ”Air Sumber Kehidupan”. Menurutku, tontonan yang sangat indah. Tentu saja dibantu oleh tutor. Di akhir tayangan, foto-foto kami disertakan di situ. Setiap personil diberi jabatan kemiliteran. Lik Agus sebagai komandan tempur (baca: sutradara) dengan pangkat jendral. Sus Sisca sebagai penembak jitu (baca: juru kamera) dengan pangkat sersan. Aku sebagai penyapu ranjau (baca: editor) diberi pangkat peltu. Yang lebih lucu Mo Awan. Dia minta diberi pangkat tengjen saja. Tengjen itu kepanjangan dari “tetangga jendral”! Bekerja dengan Lik Agus memang menyenangkan. Meski terkadang merasa tuli karena suaranya yang lumayan keras itu.

Memahami keunikan teman lain itu memerlukan keterbukaan hati. Keterbukaan hati ini tidak mudah. Kalau aku sudah terlanjur membuat jarak, keterbukaan itu tidak akan terwujud. Di mataku Lik Agus adalah sosok yang paling awal tampak sifat aslinya. Keterbukaan hatinya paling tampak lebih awal. Inilah yang membantu setiap orang dengan mudah dekat dengan Lik Agus. Hidup Jendral!***



Tutornya Training
September 14, 2008, 2:58 pm
Filed under: Tentang Training | Tag: ,
Mas Haryo, salah satu tutor yang jayusnya minta ampun!

Yang namanya mengikuti suatu training pasti akan didampingi oleh tutor. Kalau tidak didampingi, berarti bukan training lagi, tapi udah kerja sungguh. Orang magang kerja aja masih didampingi, training apalagi. Seperti juga yang kualami dalam training ini. Pasti juga didampingi oleh para tutor. Sejak perkenalan itu, ada yang mulai sedikit menarik perhatian. Rata-rata, tutornya berpenampilan aneh. Aneh? Bener-bener aneh di mataku. Misalnya, berambut gondrong. Trus, ada yang pakai anting-anting! Ada juga yang tidak berambut gondrong dan tidak memakai anting-anting di telinga, tetapi memakai gelang! Wualah……!

Gondrongnya ada yang wajar, biasa! Ada juga yang gondrong wagu! Lho? Iya, udah keriting, digondrong lagi! Jadi bentuknya ”jebubuk” kayak sarang burung! Hi…hi…hi….! Kesan lho ini, kesan! Jangan dibantah! Bisa sedikit tunduk pada sisir kalau baru dikeramasi.

Anting-antingnya jangan ditanya lagi! Pastilah gak bakalan di dua telinga. Hanya di satu telinga saja. Aku tidak tahu, emas atau bukan. Yang pasti, ada yang memakai anting-anting.

Gelang? Barang itu ternyata juga melingkar di tangan beberapa tutor. Jangan bilang gelang jam tangan. Emang gelang beneran. Bahannya, aku tidak tahu. Mungkin memang mengesan juga, sehingga harus dipasang.

Jumlah tutornya banyak yang laki-laki. Tutor perempuan kupikir hanya 2 orang! Itu saja, penampilannya udah dimirip-miripkan laki-laki. Misalnya, berambut pendek, bukan panjang diurai! Trus…, emang pendek karena kalau dipanjangkan jelek. Habis, rambutnya keriting! Kan kayak gerumbul kalau dibiarkan tumbuh!

Namun, yang biasa-biasa potongan fisiknya juga ada. Tapi…., kocaknya melebihi yang aneh-aneh rambutnya! Berpakaian biasa, tidak gondrong, tidak beranting, tidak memakai gelang, eh…tak tahunya jayusnya……….walalah! Bikin perut jadi kaku kalau dengar banyolannya!

Yang biasa-biasa ada tidak? Yaa….jangan tanya yang biasa-biasa! Orang yang biasa-biasa itu rata-rata sulit berkembang. Hangat-hangat tahi ayam! Makanya, tutor di situ tidak ada yang biasa-biasa! Berdasarkan pergaulanku, semuanya memiliki karakter yang saling memperkaya. Terlebih, mereka juga dituntut untuk berkreasi sesuai tugas masing-masing!

Setiap orang memang memiliki perbedaan, terlebih jika dilihat dari segi fisiknya. Terkadang, penampilan fisik itu bisa menipu. Seseorang yang berpenampilan perlente, eh ternyata pencopet. Seseorang berpenampilan seperti pemulung, eh ternyata reserse yang menyamar. Lho? Kok sampai ke situ? Maksudku, jangan menilai seseorang jika hanya sebatas penampilan fisiknya. Dilihat juga sisi dalamnya. Bukan pakaian dalamnya, tapi sifat-sifat hatinya yang tercermin dalam perilakunya. Jangan mudah tertipu dengan penampilan. ***




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.